Jane Poluan, SE, MSM : “Di Masa dan Pasca Pandemi, Perekonomian Masyarakat Diberi Pilihan Survive or Die. Solusinya, Dibutuhkan Adaptasi dan Inovasi”

BAGIKAN

Date:

MILENIUMTIMES.COM, TomohonPandemi Covid-19 telah meluluhlantakan perekonomian dunia. Tidak terkecuali Indonesia turut merasakan imbasnya. Lantas, bagaimana perekonomian masyarakat bisa bertahan hidup di tengah atau pasca pandemi ? Mileniumtimes.com meminta pendapat Jane Poluan, SE, MSM Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado.

Berikut ulasannya,

PEREKONOMIAN masyarakat menjadi salah satu aspek yang ikut “tergores” oleh pandemi. Tahun 1998, ketika krisis ekonomi melanda, UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) masih mampu menjadi “pagar” untuk perekonomian. Tapi saat ini, dampak pandemi benar-benar dirasakan semua pelaku ekonomi baik UMKM, BUMN, BUMD, perusahaan swasta dan multinasional dan juga star-up bisnisnya.

Pra Covid-19 bisnis jasa seperti hotel, pariwisata yang menawarkan objek wisata alam, event organizer lengkap dengan paket katering, makeup, musik dan dekorasi, rumah makan semuanya bisa menjadi “pegangan hidup” bagi orang-orang yang menggelutinya. Namun saat ini ketika hotel-hotel dan objek wisata tutup, acara suka dan duka yang melibatkan orang banyak tidak ada lagi. Rumah makan hanya melayani take home bahkan sebagian harus ikut ditutup. Tentunya pegangan hidup itu pun hilang apalagi sudah memasuki bulan ketiga kita menjalani new normal dalam konteks di rumah saja atau kerja dari rumah.

Kondisi tadi belum termasuk dengan masyarakat yang hidup dari penghasilan sehari-hari seperti ojek, sopir mikro, penjual gorengan pinggirn jalan dan sebagainya. Pasti dampak ekonomi lebih cepat dirasakan oleh masyarakat dengan profesi tersebut.

“Inilah saatnya dimana insting hidup untuk survive di masa sulit ini perlu ada. Sesuai teori Darwin bahwa yang bisa beradaptasi, itulah yang bertahan. Karena jika dibiarkan akan muncul masalah sosial lainnya yang justru memperparah kondisi saat ini, “ sebut Jane Poluan.

Lanjut dikatakan perempuan bergelar Magister Sains Manajemen dari Universitas Indonesia ini,

“Untuk itu masyarakat pintar-pintar beradaptasi baik dalam hal pola pikir maupun pola tindak. Selain itu juga pintar berinovasi. Beradaptasi dan berinovasi saat ini menjadi lebih mudah karena kita punya tools yang dikenal dengan teknologi digital yang bisa ditemukan di genggaman tangan kita seperti handphone”.

Jane kemudian melanjutkan,

“Dengan adanya teknologi digital kita bisa beradaptasi mencari pekerjaan sesuai keadaan. Kita optimalkan kemampuan diri kita atau hobi kita menjadi bisnis yang bisa dipasarkan secara online. Jika punya keahlian akademis kita bisa buka bimbingan online, seminar online, konsultasi online. Masyarakat yang biasanya berdagang di pasar juga bisa menawarkan dagangannya secara online. Jasa salon bisa menawarkan service door to door secara online. Juga dengan rumah makan”.

Disebutnya pula,

“Anak muda juga bisa jadi influencer, endorser dan you tuber dadakan dengan menyajikan konten-konten positif yang bukan tidak mungkin ke depan bisa menjadi sumber pendapatan. Dengan banyaknya platform digital seperti media sosial masyarakat diberi kemudahan untuk beradaptasi dan berinovasi dengan caranya masing-masing”.

Di masa seperti ini, memang pemerintah juga sudah melakukan banyak hal untuk membantu meringankan beban hidup masyarakat misalnya memberikan bantuan makanan, kesehatan, keringanan dalam membayar cicilan, penurunan bunga pinjaman dan sebagainya. Akan tetapi itu semua tidak menjamin kelangsungan hidup secara jangka panjang bagi masyarakat sendiri,” sebut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi ini,.

Oleh karena itu solusi menurut alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi ini,

“Untuk survive di masa sulit ini kita perlu beradaptasi dan berinovasi. Kita diberi pilihan : survive or die. Masyarakat selama ini berada di comfort zone bahkan “dininabobokan” dengan kenyamanan yang ada perlu memiliki kepekaan untuk mau berubah agar bisa survive.

Untuk itu perubahan mindset atau pola pikir sangat penting agar bisa cepat bertindak dan mengambil keputusan mengenai langkah apa yang akan dilakukan untuk survive. Ketika mindset tidak diubah, maka disitulah kita akan mengalami keterpurukan ekonomi yang berdampak pada aspek sosial lainnya dengan kata lain kita ada di tahap “die” (fry).

 

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU