160 Tahun Silam, Orang Tinoor Pertama Kali Kenal Tuhan Yesus. Purukan, Sulu, Longdong, Mundo, Pangkei, Orang Kristen Pertama

BAGIKAN

Date:

Mileniumtimes.com-TOMOHON

INJIL disebut masuk “Mawale” (sebutan Tinoor awal/kini kawasan Lapangan DIM Sondakh) pada Thn 1845. Namun tidak terdapat catatan siapa persisnya zendeling (pekabar injil) yang membawah masuk injil di Mawale. Dalam catatan, dari Tahun 1845-1860, penduduk mulai pindah dari Mawale ke kampung baru (Tinoor sekarang). Perpindahan diakibatkan selain wabah penyakit sampar dan kolera yang menyerang penduduk, juga disebabkan karena terjadi gempa bumi hebat pada Tahun 1845.

Waktu penduduk mulai pindah, mereka belum tau firman dan belum mengenal injil. Pada Thn 1860, dimasa Gabriel Pangkey (i) mengepalai negeri Tinoor baru, Pandita Nicolaas Philep Wilken (mulai bertugas di Distrik Tomohon sejak 1843), datang membawah injil di Tinoor yang penduduknya semakin bertambah.

Setelah tiga belas tahun melayani resort (wilayah) Kakaskasen dan beberapa kali datang berkunjung ke Tinoor dari Tomohon dengan menunggangi kuda, barulah pada Tanggal 20 Oktober 1860 dengan mengambil tempat di Terung (sabuah), Pandita Wilken untuk pertama kali memberikan sakramen baptisan kepada lima orang pribumi Tinoor.

Ke lima orang itu masing-masing; 1. Albertus Purukan (19 thn/lahir Tinoor), Karel Sulu (16 thn/lahir Lota), Nicolaas Longdong (11 thn, lahir Tinoor), Daniel Mundo (11 thn, lahir Tinoor) dan Ertus Pangkey (6 bln, lahir 13 April 1860/Tinoor). Kelima orang itu pula lalu disebut sebagai “Orang Kristen Pertama” di negeri Tinoor. Momentum baptisan pertama ini disebut juga “Juma’at Moela Moela” dan di kemudian hari dijadikan sebagai datum (bulan dan tahun) berdiri-nya Jemaat Tinoor yang sampai sekarang terus diperingati.

Baptisan pertama ini dipersiapkan dengan baik oleh Pandita Wilken seperti mendatangkan saksi (mama dan papa ani) baptisan. Papa ani dan mama ani pertama berasal dari negeri tetangga Kakaskasen bernama Semuel Liuw dan Yohanna Tangkawarouw (keduanya di baptis di Kakaskasen oleh Pandita Wilken 28 Desember 1859). Semuel Liuw kelak jadi guru Jemaat di Tinoor. Sementara air baptisan diambil dari mata air “Pasuwengan” (kala itu lokasi/tempat pengambilan air minum dan pemandian umum penduduk).

Lokasi baptisan diduga kuat dimana sekarang berdiri Gereja Tua. Menariknya, ketika baptisan pertama ini berlangsung, “Walian” Rundeng Purukan (anak dari Semuel ‘Kepor’ Purukan) bersama isterinya Riab Mintalangi (asal Sonder) menghadiri baptisan pertama tersebut karena anak mereka bernama Albertus Purukan ikut dibaptis.

Juga hadir, Gabriel Pangkey Hukum Tua Negeri Tinoor ketika itu dan disaksikan oleh ratusan penduduk Negeri Tinoor yang masih arifuru dan belum mengenal Kristus. Dikisahkan, saat Pandita Wilken melakukan prosen kristenisasi di negeri Tinoor, tidak ada resistensi dari penduduk bahkan tetua-tetua negeri (Walian dan Hukum Tua) saat itu turut memfasilitasi jalannya pelaksanaan baptisan pertama.

Jemaat GMIM “Solafide” Tinoor, nama ini mulai disebut, setelah Gedung Gereja Baru yang diarsiteki Ir. Daniel Ibrahim Muaja Sondakh dan berdiri di atas kintal hibah Kel. Marthina Purukan-Mamangkey dan diberi nama oleh Kel. Frans Yakob-Amelia Rapar, diresmikan oleh Gubernur Sulut GH. Mantik dan ditahbiskan Ketua Sinode GMIM Pandita W.A. Roeroe, Sabtu 13 Desmber 1980 pada masa Tinoor dipimpin Hukum Tua Willem Johanes Rindengan).

Kini 160 tahun kemudian, tepatnya hari ini Selasa, 20 Oktober 2020 Jemaat GMIM “Solafide” Tinoor sudah menjadi jemaat berkembang besar di lingkungan GMIM dengan pertumbuhan pesat iman anggotanya. Terima Kasih.

Selamat HUT ke-160, Jemaat GMIM “Solafide” Tinoor (Disarikan dari buku, Sejarah 152 Tahun Kristen Protestan & Berdirinya Jemaat GMIM “Solafide” Tinoor (1860-2012) Tahun 2013 yang ditulis oleh Judie J Turambi).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU