TOMOHON, Mileniumtimes.com– SEJARAH perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan tidak hanya ditujukan untuk mengembalikan harkat dan martabat serta kehormatan bangsa tetapi juga untuk merebut kembali pelbagai kekayaan sumberdaya alam (gas bumi, batubara, emas, timah, minyak bumi dll) milik bangsa Indonesia dari penguasaan kolonialisme dan imperialisme.
Salah satu putra terbaik bangsa yang berhasil menggagalkan penguasaan kekayaan tambang oleh Belanda dan Jepang adalah Tou Minahasa yakni Arie Frederick Lasut kelahiran Kapataran Minahasa 6 Juli 1918, 103 tahun silam.
Arie Lasut lahir dari keluarga sederhana, putra kedua dari delapan bersaudara ayah bernama Darius Lasut asal Tulap dan ibunya Ingkan Supit asal Kapataran.
Salah satu adiknya bernama Willy G.A. Lasut pernah jadi Gubernur Sulawesi Utara.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar Belanda (HIS) di Tondano 1924 dan lulus HIK Ambon 1933, Arie kemudian melanjutkan pendidikan tingkat atas di Bandung.
Merasa tidak cocok menjadi guru Arie kemudian masuk AMS jurusan ilmu pasti dan alam.
Usai AMS Arie berniat menjadi dokter lalu is masuk GHS (mini fak. Kedokteran UI) Jakarta namun harus berhenti karena kesulitan keuangan.
Di kota Kembang Bandung Arie masuk THS (mini ITB), tetapi tidak cukup setahun Arie putus kuliah.
BEKERJA.
Bertepatan tidak lagi kuliah, Arie kemudian bekerja di Dienst van Mijnbouw (kini Direktorat Geologi).
Sambil bekerja bersama temannnya Sunu Soemosoesastro, Arie karena cerdas is lalu mendapat bea siswa untuk memperdalam kemampuan bidang pertambangan dan geologi sampai akhirnya Arie menguasai peta kekayaam pertambangan dan geologi.
TAHANAN JEPANG.
Keika Jepang masuk Indonesia dan menaklukkan Belanda, Arie juga sempat ditahan Belanda.
Beruntung, karena Jepang mengetahui Arie tahu persis tentang pertambangan di Indonesia, Arie pun dibebaskan.
Kantor pertambangan tempat Arie berkerja berpindah tangan ke Jepang dan berganti nama Chisitzu Chosajo.

Sketsa ilustrasi ketika Arie F Lasut dijemput paksa
untuk di eksekusi (Dok).
AMBILALIH.
Pasca Indonesia Merdeka, pada 25 September 1945 Presiden Soekarno menginstruksikan ambil alih Chisitzu Chosajo.
Arie pun kemudian mendapat giliran menjadi Kepala Pusat Jawatan Tambang tersebut. Arie kemudian mendirikan sekolah pertambangan.
IKUT PERTEMPURAN. Tinggal di Bandung, Arie bersama tokoh-tokoh Kawanua beberapa kali ikut terlibat pertempuran melawan Belanda baik dengan Angkatan Muda Sulawesi Bandung hingga KRIS.
HABIS BATAS KESABARAN. Ari sadar betapa pentingnya nilai dokumen di kantornya sehingga ia harus mengamankannya.
Sementara Belanda frustasi karena selalu gagal membujuk Arie dengan cara lembut maupun keras hingga tekanan dan ancaman.
Hingga akhirnya 7 Mei 1949 jam 09.00 pagi, muncul radiogram yang ditujukan kepada IVG (Inlichtingen Veiligheids Groep = Dinas Rahasia Belanda) yang isinya berbunyi, “A. F. Last zoo spoedig mogelijk wegwerke” (A.F. Lasut secepat mungkin dihilangkan).
KEMATIAN ARIE. Arie segera dijemput paksa oleh tentara Belanda kendati masih tidur tidak diperbolehkan mandi.
Setelah mengganti pakaian tidur dan mengenakan sepatu, Arie disuruh naik ke jeep dan langsung dilarikan ke satu tempat ke Pakem jalan ke Kaliurang 7 km sebelah utara Jogjakarta lalu dieksekusi.
Oleh Karena prinsip dan pandangan hidup itu maka penghormatan atasnya diberikan dengan sepenuh hati oleh Pemerintah Indonesia dalam bentuk penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969.
Sepenggal tulisan ringkas diatas disarikan dari berbagai referensi dan diposting untuk mengenang 103 tahun kelahiran Arie Frederick Lasut yang jatuh tepat pada tanggal dan hari ini, Makase (by Judie JT).


