“I Remember Tomohon” Sebuah Buku Petite Histoire Tentang ‘Isi Perut’ Negeri Tomohon

BAGIKAN

Date:

Adegium Latin sebut, “Verba volant scripta manent”, apa yang diucapkan akan hilang tetapi apa yang ditulis akan abadi.

Itulah sebabnya kisah dan cerita-cerita rakyat orang biasa dalam “petite histoire” (sejarah kecil) tentang Tomohon yang pernah terjadi dan belum diketahui banyak orang, telah ditulis dalam sebuah buku berjudul, “I Remember Tomohon” dengan sub title, (Kantoro pah Liuzen).

Menuliskan banyak dan beragam cerita, kisah dan peristiwa yang pernah terjadi atau cerita legenda bahkan mitos dari masa lampau menjadi semakin menarik diketahui dan relevan dimasa kini.

Meminjam sebait kalimat pendek dari Polycarpus Swantoro (salah satu pendiri Kompas) katanya, “Masa lalu selalu aktual”.

Lantas apa saja cerita dan kisah tentang ‘isi perut’ Negeri Tomohon dalam buku ini ?

Diawali dengan cerita legenda wanita “Moeoeng” asal mula nama Tomohon, asal mula Negeri Sarongsong dan Kakaskasen, legenda danau Linow, cerita Dotu Siow Kurur, Dotu Tumalun, Tololiu Tua, cerita zaman Portugis, Spanyol, Belanda hingga masuknya Jepang di Tomohon.

Ada cerita Lukas ‘Werwer’ Wenas, Para zendeling memprotestankan Tomohon, Pembaptisan Katolik pertama di Tomohon dan Kakaskasen, Suster-suster Belanda ajarkan (ba strika, beking kukis brudel, panekuk, sup, brenebon) pa keke-keke Tomohon, kisah Lumintjewas dan Raintung, Danau Linow didatangi Pangeran dari Italia, Alfred Russel Wallace jadi tamu Mangangantung Palar Kepala Distrik Tomohon, orang Tionghoa berambut kuncir, Kisah Ting Eng Poo, cerita Ds A.Z.R Wenas, cerita Silat Sambilang, Baluran, cerita Spiler, dan cerita Eliezer Paat, ada klub bola basket Tionghoa, cerita Alexander Werwer Wenas pemilik Bioskop Metropole Jakarta.

Juga ada cerita Pesawat baling-baling mendarat di Kakaskasen, Gereja Besi didirikan, Gereja Sion di buat, RS Gunung Maria dan RS. Bethesda dibangun, Bioskop pertama di Tomohon sampai Bioskop Sonya dan Nusantara berdiri, Agas Mantow orang Paslaten makan bubur 1 blek minyak tanah, John ‘Gajah’ Mantiri orang Matani makan biapong sebanyak 4 lesa-lesa, perintis drum-band, cerita Babe Palar, Henk Ngantung, Karel Senduk sampai berdirinya Kota Tomohon.

Tidak lupa pula ada cerita lagu Encerewer rewer Bom Bom sejak 1810 dan lagu Dung Nene Dung Tete dari Woloan, juga, Johanis Ngangi pencipta lagu Opo Wanna Natas dan cerita Opa Paulus A. Lenzun dengan kelompok musik bambu klarinet “Orion”. Juga Para pemahat/pematung Tomohon (Tarcy Paat, Wetik, Anthon Sangki, Arie Tulus), Patung Tololiu berdiri, sebelumnya ada Tugu Pembebasan Kota Tomohon dan Kateluan Park di zaman kolonial, Elvianus Katoppo ex Direktur Meisjesschool dan rumah tinggalnya di Kaaten

Ada lagi cerita Aso Aso Tionghoa ajarkan menanam (kol, petsai, cai sim), pembuat sepatu kulit, membuka rumah makan dan pedagang klontong termasuk toko emas pertama di Tomohon, toko besi. Legenda Rk. Kitsang, Fang Seng, Rita, Lo Wa. Juga para pedagang India (Bombay) sampai kawin mawin dengan penduduk pribumi. Ada cerita Nethanel ‘Tete Kuriti’ Anes dengan nama jalannya di Matani, Cerita Haji Alwie pelopor tukang pangkas rambut di Tomohon, Studio foto Yu Eek, Hongkong, Gaya Indah, Geraldo dan Angkasa.

Tak ketinggalan cerita kelompok Hawaian pimpinan Hans Tulaar sampe Cheq Choq Rock Band pimpinan Angky Runtu, kelompok Maengket Tinoor masuk Istana Presiden juga kelompok musik Kolongan masuk Istana Presiden, ada cerita oto-oto bus kayu seperti Idam, Doris Day sampe Bemo di Tomohon, Rm Tambulinas, Pacuan kuda di Walian, Kalesaran, Korompis, Agus El Paat dan Henriette Nelwan perintis Paskibraka, orang-orang Tomohon di perantauan (luar negeri) dan masih banyak lagi.

Tak kalah seruh, ada orang-orang kuat Tomohon seperti Alexande ‘Ander’ Pontoh dari Talete, Hercules Kolongan, Zacharias Kaparang jago gulat asal Paslaten, Mathindas dari Kinilow.

Orang Tomohon se-dunia ‘wajib’ baca agar semua cerita kisah yang pernah terjadi akan mengingatkan kita pada Negeri Tomohon (Remember Tomohon) dan jangan sampai dilupakan (kantoro pah liuzen) bahkan terus dilestarikan agar menjadi warisan tak benda buat anak cucu kita dimasa datang.

Buku ini akan diluncurkan persis di HUT ke-19 Kota Tomohon tepatnya, 27 Januari 2022, Makase (jjt/penulis).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU