Rumah Kopel ini Berharga 12.000 Gulden, Eerste Steengelegd 1934, Dikerjakan Dua Menantu, Tempat Dibesarkan Henk Ngantung

BAGIKAN

Date:

TOMOHON, Mileniumtimes.com-Rumah kopel ini punya identitas dan kenangan yang kuat. Tahun ini, bangunan atau rumah ini akan berusia 87 tahun.

Rumah ini, berdiri di atas tanah milik Anna Anes (bersuamikan Onesimus Kalensun eks KNIL asal Pangolombian/adik dari Nethanael Anes/oma dari Henk Ngantung), dikerjakan oleh kedua menantu Anna Anes. Runtunuwu J. Lantang (istrinya bernama Esther Kalensun/menantu dari Anna Anes) seorang eks KNIL asal Matani yang mahir membuat rumah.

Dialah yang mendesain atau ‘kapala bas’ ketika mengerjakan rumah tersebut. Konstruksi dan disain rumah tersebut model rumah Belanda.

Sementara menantu yang lain bernama Rory Ngantung (istrinya bernama Maria Kalensun/menantu dari Anna Anes/ayah dari Henk Ngantung) asal Matani yang juga eks KNIL yang menyediakan dan membeli bahan-bahan pembuatan rumah tersebut.

Diceritakan kalau bahan tehel dari rumah ini, dibeli dari luar negeri dan kayu-kayunya didatangkan dari P.Jawa. Tenaga kerja pembuatan rumah tersebut semuanya orang Matani.

Rumah kopel ini selesai dibangun habiskan biaya 12.000 Gulden. Menariknya, biaya ditanggung patungan kedua menantu Runtunuwu Jan Lantang dan Arnold Rori Ngantung masing-masing 6.000 Gulden.

Selesai dikerjakan dalam beberapa bulan, peletakan batu pertama (erste steengelegd) dilaksanakan pada 24 Oktober 1934.

Ada cerita lucu ketika rumah ini sementara dikerjakan. ‘Kapala bas’ Runtunuwu J. Lantang menginginkan kalau dia ingin menempati pada bagian sebelah timur atau kiri (menghadap jalan). Sehingga rumah bagian timur atau sebelah kiri, di atasnya ditulisnya Huize Esther (rumah Esther) sementara bagian barat ditulisnya Huize Maria (rumah Maria).

Namun, ketika mau ditempati oleh kedua anaknya Esther dan Maria, ibu Anna Anes dengan bijak dan demokratis menginginkan agar diundi. Hasilnya kemudian terbalik, Esther Kalesun menempati sisi bagian barat atau kanan sementara Maria Kalensun menempati sisi bagian timur atau kiri.

Rumah yang juga disebut ‘rumah kembar’ ini, menjadi tempat tinggal dari Henk Ngantung (Gubernur DKI 1964-1965) yang juga maestro pelukis Indonesia sedari kecil hingga menyelesaikan sekolah dasarnya di Louwerierschool Kaaten Matani (fry/Selengkapnya baca buku “The Secret of Tomohon, Kamatau pah Liuzen).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU