MILENIUMTIMES.COM, Tomohon – Saat ini, krisis pangan sebagai dampak pandemi mengganggu banyak sektor yang menyokong kehidupan masyarakat, termasuk diantaranya sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sorotan karena berkaitan erat dengan ketahanan pangan. Ketahanan pangan menjadi sesuatu yang harus diupayakan untuk menghindar dari krisis pangan. Masyarakat misalnya mulai melakukan penghematan dan menanam bahan pangan lokal. Tapi untuk bertahan cukupkah dengan melakukan penghematan dan menanam bahan pangan lokal ?
Dari perspektif sosial ekonomi pertanian bagaimana menjaga ketahanan pangan agar tidak terjadi kerawanan pangan di era new normal ini ? Mileniumtimes.com meminta pendapat Dr. Ir. Charles R. Ngangi /Pengajar di Universitas Sam Ratulangi Manado.
Berikut pandangannya.
COVID-19 bukan saja ancaman bagi kesehatan tetapi juga ancaman bagi berkehidupan lainnya antara lain; sosial, ekonomi, pendidikan. Pada sendi sosial terjadi hubungan sosial yang terbatas satu dengan yang lainnya. Demikian juga penduduk yang dulunya potensi miskin menjadi miskin bahkan ada penduduk yang awalnya kategori mampu menjadi miskin akibat dirumahkan tanpa jaminan sosial apapun atau di PHK.
Hal-hal tersebut menjadikan makin meningkatnya angka kemiskinan. Pada sendi pendidikan yang dulunya pembelajaran dilakukan di sekolah/kampus di ruang kelas menjadi pembelajaran secara daring (dalam jaringan/online-red). Maka Covid-19 memicu terjadinya perubahan secara revolusi di masyarakat.
“Terjadi perubahan sosial secara revolusi akibat pandemi Covid-19 karena gaya hidup dalam ketidakpastian, ketidaknyamanan dan ketidakamanan serta ketidakmampuan sehingga harus diantisipasi dengan tatanan kehidupan normal baru atau new normal”
“Tatanan new normal merupakan transformasi perilaku hidup di masyarakat untuk tetap menjalankan aktifitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan berupa pakai masker, jaga jarak, hand sanitizer dan cuci tangan pakai sabun di air mengalir. Karena new normal akan menggerakkan sendi kehidupan yang telah diam di tempat sampai ditemukannya vaksin yang dapat menyembuhkan’ kata Ngangi.
Akibat perubahan sosial kata pria bergelar doktor bidang sosial ini,
“Mengakibatkan ketahanan pangan masyarakat yang berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam menyediakan makanan menjadi berkurang. Hal inilah yang menyebabkan kerentanan sosial. Kerentanan sosial membuat petani produktivitasnya menurun, motivasi menurun dan kinerja menurun”.
Lanjutnya,
“Mengantisipasi kerentanan sosial yang menyebabkan produkstivitas menurun, motivasi menurun dan kinerja menurun maka pada masa new normal, ketahanan pangan harus mencukupi kebutuhan pangan selama pandemi Covid-19 ini”.
Hal ini sebutnya, sejalan dengan Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah memastikan 11 (sebelas) bahan pokok dalam kondisi yang aman sehingga masyarakat tak perlu panik pasokan pangan dimasa pandemi Covid-19.
Pengajar di Unika De Lasale Manado ini mengatakan,
“Bahkan, untuk menjaga kebutuhan dan ketahanan pangan, strategi yang dilakukan adalah menyiapkan langkah darurat untuk menstabilkan harga pangan, hingga membangun buffer stock (persediaan cadangan-red) pangan dan juga melakukan padat karya pertanian dan memberikan kemudahan pembiayaan melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan asuransi pertanian”.
Selain itu, untuk jangka menengah, Kementan akan melakukan diversifikasi pangan lokal hingga membantu sejumlah daerah yang mengalami defisit pangan termasuk petani.
Sedangkan untuk jangka panjang, Kementan akan menerapkan peningkatan produksi hingga 7 % (persen) per tahun. Juga Kementan memberikan relaksasi terhadap sektor padat karya melalui pemberian bibit atau benih sehingga produksi komoditi tetap berjalan.
Disebutnya pula,
“Masyarakat Kota Tomohon terutama ibu-ibu rumah tangga pada masa new normal haruslah berkreasi dan berinovasi untuk ketahanan pangan dengan menanam pangan lokal di pekarangan rumah seperti berbagai jenis sayuran, rempah-rempah, budidaya ikan, ternak dll sehingga terdapat diversifikasi pangan dan keragaman pangan yang dikonsumsi keluarga. Peran Pemerintah Kota adalah mengedukasi ibu-ibu rumah tangga untuk diversifikasi pangan lokal di pekarangan rumah, “ kata Ngangi yang juga Ketua Vox Populi Indonesia Institut (Vox Point) DPD Sulawesi Utara.
Menyangkut ketahanan pangan,
“Di lahan pertanian perlu diversifikasi pangan lokal agar masyarakat dapat mengonsumsi keragaman pangan berupa Ubi Jalar, Ubi Talas, Ubi Kayu, Pisang, Jagung dll. Peran pemerintah Kota adalah menyediakan bibit, pupuk dan obat-obatan pertanian serta mensubsidi faktor-faktor input juga mensubsidi bahkan mengintervensi faktor output pada saat panen dan pasca panen,” sebut Ngangi, yang Strata 2-nya pada bidang Ekonomi Pertanian.
Pada bagian akhir disebutnya,
“New Normal adalah pilihan untuk menggerakkan ekonomi, sosial budaya bahkan politik sambil menantikan vaksin yang dapat mencegah dan menyembuhkan Covid-19.” Maka partisipasi semua pihak bukan hanya pemerintah tetapi masyarakat termasuk ibu-ibu rumah tangga diperlukan agar ketahanan pangan dapat terjamin. Jika tidak adanya partisipasi bersama maka akan terjadi kerawanan pangan” (*).


