TOMOHON, Mileniumtimes.com.–
NEHRU pernah bilang kepada Indira Gandhi putrinya, “Jika punya pertanyaan sulit, datanglah dan bertanyalah kepada Paman-mu Soekarno”. Penulis tidak pernah ketahui, apakah ucapan Nehru ini serius atau hanya bercanda, yang pasti, penulis punya pertanyaan sulit walau tidak pernah terjadi bertanya kepada Soekarno tapi mau bertanya kepada si “toekang gambar”.
Meski juga tidak pernah ada perjumpaan apalagi wawancara karena si toekang gambar di tahun 1991 sudah dipanggil pulang Sang Khalik, ternyata, jawaban benar-benar ada atas sebuah pertanyaan yang oleh sebagian pihak menggolongkan dia sebagai ‘orang kiri’.
Sepenggal kalimat curahan isi hati dan tulus dari seorang toekang gambar yang terpanggil untuk menyatakan hakekat jiwa dan hatinya bahwa, ” *Saya bukan orang komunis dan tidak pernah mencita- citakan komunisme”.*
Hendrik ‘Henk’ Hermanus Joel Ngantung* alias Henk, Gubernur DKI Jakarta 27 Agustus 1964- 15 Juli 1965 (sebelumnya Wakil Gubernur 1960-1964) kelahiran Bogor 1 Maret 1921.
Guratan tangannya diantaranya; Patung Selamat Datang, Patung Wajah Gajah Mada, Logo DKI Jakarta, Lambang Kostrad, Tugu Pembebasan Irian Barat, tidak saja masih terlihat dengan jelas tapi sangat monumental dan bernilai strategis.
Itu semua, tidak saja membanggakan warga dan Kota Jakarta yang hingga kini masih dinikmati selain bangsanya sendiri juga warga dunia serta melegenda.
Sekadar menengok kebelakang, kelak tuduhan ia disangkutpautkan dengan Lekra lalu dicap komunis, “Mungkin secara administrasi, namun secara ideologis tidak”. Sebab, seorang seniman punya slogan L ‘art pour L ‘art (seni adalah untuk seni). “Saya kira Henk Ngantung menjadi korban rivalitas ideologi-politis yang terjadi kala itu” tutur Hendrikus ‘Ben’ Palar Sejarawan Minahasa.
J.J Rizal, Sejarawan Universitas Indonesia /Budayawan Betawi juga pernah bilang kepada penulis, Henk Ngantung dia seorang Soekarnois bukan komunis dan Alwi Shahab sejarawan juga menyebut bahwa, “Henk Ngantung tidak banyak berpolitik, tetapi lebih banyak bekerja untuk rakyat.
*“La Historia me abolvera”* Sejarah yang akan membebaskanku. Dan sejatinya, mengungkapkan sejarah tak semestinya menghakimi orang yang kalah dan bersalah, tapi kepada sejarah kita harus jujur.
Jalan hidup sang seniman, unik dan paradoks melampaui cita-citanya menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta bahkan Nadjwa Shihab dalam program Mata Nadjwa @MetrovTv beberapa tahun silam bilang kalau Henk Ngantung Gubernur eksentrik.
Banyak sisi lain tentang Henk Ngantung kecil anak serdado (tentara-red) yang bergenetik Portugis hingga ia berpacaran mengirimkan surat cinta sekira 100 surat cinta kepada tunangannya seorang perempuan Tompaso (Kawangkoan) yang kemudian menjadi istrinya Eveline Mamesah.
Juga pertemanannya dengan Soekarno hingga Soekarno menjadikannya Wagub (4 tahun) sampai karirnya menjadi Gubernur DKI dan akhirnya rejim orde lama-lah yang memberhentikan Henk Ngantung sebagai Gubernur DKI.
Tak lupa, di negeri lelulurnya Tomohon, Henk Ngantung pernah menggelar pameran selain di eks sekolah dasarnya Louwerierschool (kini SD GMIM 3) Kaaten Matani yang disponsori bekas gurunya Elvianus Katoppo (Direktur Louwerierschool) juga di gelar di Negeri Talete. Dan ketika kumpul duit karena ingin merantau di Tanah Jawa, Henk Ngantung harus cape-cape jualan lukisannya di Bendar Manado.
Itulah sekilas tentang Henk Ngantung, satu-satunya gubernur di republik ini, yang ketika diangkat menjadi gubernur melalui telegram/kawat Presiden Soekarno saat itu berada di luar negeri dan ketika diberhentikan, Henk Ngantung justru berada di luar negeri dan melalui telegram/kawat Presiden Soekarno pula.
Pembaca yang budiman, kelak buku ini sampai di tangan anda, buku ini bukan untuk mengklarifikasi atau mengonfirmasi ‘stigma’ yang dituduhkan kepadanya. Tapi buku ini hadir untuk sebuah apresiasi atas nasionalisme dalam seni dan pemerintahan dari seorang yang bernama Henk Ngantung, salah satu seniman besar milik pIndonesia Tou (orang) Minahasa asal Tomohon yang pernah hidup di bumi pertiwi.
Juga untuk menyegarkan kembali perjalanan seorang maestro seni yang tidak hanya berhasil membangun estetika wajah Jakarta tetapi juga berhasil membangun budaya warga ibu kota Jakarta yang mencerminkan karakter bangsa dimana Henk mendapat kehormatan kepercayaan memimpinnya.
Buku setebal sekira 110 halaman ini, dipastikan akan dipublish pada 1 Maret 2024 persis 103 tahun kelahiran Henk Ngantung. Cover depannya didesain oleh Tito Poluan (Kakaskasen) dengan (panjang) 25 cm x 15 cm (lebar) dan akan dicetak diatas kertas doff (Disarikan dari buku Nasionalisme dalam Seni dan Pemerintahan, a Tribute to Henk Ngantung) (fry).








