Selasa 28 April 2020
MILENIUMTIMES.COM, TOMOHON – Hingga kini, belum ada terapi yang benar–benar dikatakan yang bisa membunuh virus Corona. Sehingga sampai saat ini belum ada obat yang dikatakan ampuh untuk menyembuhkan penyakit Covid-19. Namum saat ini telah diadakan upaya tahap uji klinis untuk pemberian terapi plasma Konvalesen. Terapi plasma darah Konvalesen bisa menjadi harapan untuk sembuh dari Covid-19.
Dilansir dari program Prime Talk @Metro Tv (Senin, 27/4, Pkl 20.06 wita) menyebutkan, terapi plasma Konvalesen ini, mengambil darah dari pasien Covid-19 yang sudah sembuh kemudian plasma dari darah tersebut dipisahkan untuk diberikan kepada pasien Covid-19 yang masih sakit.
“Prosesnya, seperti transfusi darah. Satu pasien sembuh bisah diambil darahnya 200-500 cc. Kemudian, donor darah ini diambil dari salah satu lengan pendonor dalam bentuk. Pemisahan plasma darah dilakukan dengan metode centrifugasi maupun plasma versies. Pemberian plasma kepada pasien Covid-19 dilakukan hingga empat jam. Setelah proses plasma ini selesai diambil dalam satu jam pertama kondisi pasien yang ditansfusikan dimonitor, berefek positif atau tidak. Jika berefek aman, proses transfusi darah dapat dilanjutkan. Satu pendonor dapat mendonorkan plasma darahnya beberapa kali dan dapat diberikan setiap empat belas hari sekali setelah satu sampai empat jam usai ia mendonor”.

Plasma Konvalesen ini memiliki anti bodi yang berfungsi sebagai zat untuk melawan virus yang ada dalam tubuh pasien Covid-19. Terapi plasma ini, metode lama yang digunakan untuk penyakit-penyakit sebelumnya sepeti Ebola, Polio, H-1 N-1 (virus flu babi), Sars, Meurs yang digunakan oleh beberapa negara. Salah satu negara yang melakukan plasma darah Konvalesen adalah Tiongkok. Bukti klinis juga telah keluar dimana sepuluh pasien di Tiongkok diuji cobakan menerima terapi Konvalesen, dinyatakan sembuh. Blakangan Inggris juga melakukan uji klinis nasional secara besar-besaran dan meminta kepada pasien Covid-19 yang sudah sembuh untuk mendonorkan darahnya. Juga ada Iran, Korsel, Jepang bahkan Indonesia.
Dr. Theresia Monica Raharjo, ahli genetika dan molekuler Universitas Maranatha Bandung mengusulkan kepada pemerintah Indonesia untuk melakukan terapi darah Konvalesen.
“Terapi ini realatif aman dan mempunyai angka infektifitas tinggi. Namun ada persyaratan donor yang harus kita penuhi adalah, pendonor tersebut harus positif VCR confirm bahwa ia menderita Covid-19. Berikut ia empat belas hari bebas daripada gejalah. Setelah itu, ia harus melakukan tes VCR dua kali negatif. Pendonor juga ada syarat khusus yakni, wanita yang belum pernah menikah dan belum punya anak, atau pria. Ini harus dipenuhi agar tidak ada reaksi alergi pada paru-paru penerima”. (sumber MetroTv/fry)


