TOMOHON, Mileniumtimes.com- Erupsi atau letusan Gunung Ruang di Tagulandang Kabupaten Sitaro, lalu membuat masyarakat Tomohon bertanya-tanya apakah ada pengaruhnya terhadap Gunung Lokon ?
Farid Ruskanda Bina Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Lokon-Mahawu, ditemui sejumlah media, Selasa, (30/4/24) sore hari di Kantornya di Kakaskasen Kecamatan Tomohon Utara lalu memberi penjelasan.
“Di Sulawesi ada yang namanya tumbukan busur ganda yaitu subduksi (pertemuan antar lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik) berada di area itu. Pertemuan ini yang membentuk gunung berapi di Pulau Sulawesi dan Maluku,”

“Namun, walaupun satu subduksi atau satu zona tunjaman, tapi mempunyai dapur magma sendiri-sendiri”
“Jadi pengaruh terhadap Gunung Lokon tidak ada” jelas Farid
Tapi perlu diketahui, lanjut pria jebolan jurusan teknik geologi di Akademi Pertambangan Bandung ini, Gunung Lokon pasca erupsi tahun 2015, gempanya sudah lebih dari 23 ribu kali yang terekam.

“Itu berarti suplay magma sudah berlangsung terus menerus sejak pasca letusan tahun 2015. Dan gempa vulkanik memang tidak dirasakan manusia, berbeda dengan tektonik,” jelas Farid.
Pria mudah akrab ini kemudian menyentil sejarah letusan sedari tahun 1991. Data menunjuk, Gunung Lokon meletus berdasarkan periodesasi, tidak lebih dari 10 tahun.
Disebutnya, 3 periode letusan terakhir. Letusan besar pada tahun 1991 sampai 2001 ada masa istirahat 9 tahun. Lalu meletus 2001 sampai 2003, istirahat 8 tahun, lalu meletus tahun 2011. Terakhir meletus tahun 2015.

“Sekarang ini, sudah masuk tahun ke 9 istirahat dan Gunung Lokon berlevel dua berstatus waspada,” ungkap Farid.
“Nah soal status terakhir dari Gunung Lokon, kami sudah berikan rekomendasi kepada Pemerintah Kota Tomohon, tandas Farid yang mengaku kelahiran Tomohon dan kerap menjadi pembimbing dan penuntun field trip ke Gunung Lokon (fry).


