

TOMOHON, MILENIUMTIMES.com — Wali Kota Tomohon Caroll Senduk (CS) diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Majelis Kebudayaan Minahasa Kota Tomohon (MKMKT), Senin (9/3/26) bertempat di Lantai 3, MPP Wale Kabasaran Kantor Wali Kota Tomohon.
Dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Juliana Karwur, mengapresiasi kegiatan FGD yang digagas oleh MKMKT.

“Saya menyambut baik pelaksanaan Focus Group Discussion yang dilaksanakan oleh Majelis Kebudayaan Minahasa Kota Tomohon (MKMKT).
“Apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara MKMKT dan Narasumber Thomas Martin Senduk, pemerhati serta seluruh hadirin yang hadir.
Tajuk yang diangkat dalam forum FGD ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakat Minahasa khususnya subetnis Tombulu di Kota Tomohon.

“Sumiga Siga mengandung nilai kewaspadaan, kebijaksanaan serta sikap hidup yang penuh pertimbangan dan kehati-hatian dalam bertindak”
“Sementara Opo Wana Natas mengingatkan kita pada sumber kehidupan, kekuatan dan tuntunan spiritual yang menjadi dasar masyarakat Minahasa sejak dahulu kala,” ujar Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Juliana Karwur saat membacakan sambutan wali kota.
Lanjut dikatakan, nilai-nilai luhur ini, sesungguhnya merupakan bagian penting dari warisan budaya yang telah membentuk karakter masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan, kearifan tanggung jawab moral serta penghormatan kepada sang pencipta.

“Forum seperti ini sangat penting sebagai ruang dialog, ruang pemikiran dan ruang refleksi bersama dalam menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal Minahasa sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret dalam melestarikan, mengaktualisasikannya dalam kebidupan masyarakat di masa kini”
“Kota Tomohon sebagai bagian dari Tanah Minahasa memiliki tanggung jawab moral dan budaya untuk terus menjaga dan merawat dan mengembangkan nilai-nilai adat dan budaya yang telah diwariskan oleh paea leluhur”
“Di tengah arus globalisasi dan perkembangan zaman yang begitu cepat identitas budaya menjadi penting agar tidak kehilangan jati diri sebagai orang Minahasa”

“Saya berharap melalui diskusi ini, akan lahir gagasan, pemikiran serta rekomendasi yang konstruktif bagi penguatan budaya Minahasa khususnya di Kota Tomohon.
“Kiranya hasil-hasil pemikiran dari forum ini dapat menjadi referensi dan pijakan bagi berbagai pihak baik pemerintah, lembaga adat, akademisi maupun masyarakat dalam menjaga keberlabjutan budaya Minahasa,
“Saya mengajak kita sekalian untuk menjadikab forum ini sebagai momentum dalam memperkuat komitmen bersama untuk merawat nilai-nilai budaya, memperkokoh persatuan, serta menanamkan kearifan leluhur kepada generasi muda Kota Tomohon agar mereka tetap, mengenal, mencintai dan bangga akan identitas budaya Minahasa,” tutup Karwur.

Sebelumya, diskusi yang dimoderatori Judie Turambi, Pengurus MKMKT Ketua Harian Tonaas Sonny Moningka menyampaikan sambutan pembukaan.
“MKM Kota Tomohon menyadari masih banyak yang perlu dibenahi dalam pemajuan adat dan budaya”
“Oleh karena itu MKM Kota Tomohon perlu bersinergi dengan pemerintah, tokoh-tokoh adat dan budaya, masyarakat, pegiat budaya untuk bergandeng tangan untuk memajukan adat dan budaya Minahasa khususnya sub etnis Tombulu di Kota Tomohon,” sebut Moningka.

Menariknya, dalam menggali tentang lirik dan makna Lagu Opo Wana Natas terjadi silang pendapat, intepretasi peserta soal frasa Tombulu yakni makna Mapa suat (sesuai teks asli/patitur pencipta) dan Mapa susuat (sering dinyanyikan bebera tahun belakangan ini). Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Ferry Darossa turut memberikan penjelasan sesuai patitur awal.
Narasumber Thomas Senduk lalu mengurai bahwa Mapa susuat berkonotasi, main tabrak/tidak punya perhitungan, sementara Mapa suat diartikan berserah.
Thomas Senduk pensiunan dosen tetap jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado lalu menegaskan, “Naskah lagu apapun, itu adalah karya puisi dari pengarang. Maka berlaku satu prinsip dalam penciptaan sastra yaitu, apa yang diciptakan oleh pengarang tak dapat diubah oleh siapapun”

“Sehingga, biar itu salah kata, salah struktur tapi begitu diciptakan oleh pengarang kita tak bisa ubah,” tegas Senduk yang pernah menjadi staf pengajar/dosen tamu untuk beberapa kampus/sekolah; Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Universitas Katolik De La Salle Manado, SMA Lokon Santo Nikolaus Tomohon.
Diketahui Opo Wana Natas sebuah lagu spiritual religius daerah Sulawesi Utara yang ikonik dan telah menjadi ‘lagu kebangsaan’ Tou Minahasa adalah karya Johannes Ngangi diciptakan dan pertama kali dinyanyikan di publik Tomohon pada tahun 1937 lalu dinyanyikan pada Pertemuan Kaun Bapa Katolik se-Minahasa tahun 1939 di Lembean.
Kemudian lagu ini oleh Pemuda-pemudi Katolik Minahasa menyanyikannya dalam setiap atraksi Rijdans (Tari Jajar) disetiap acara dan pertemuan sehingga lagu ini dikenal. Lagu ini telah terdaftar dalam registrasi Kementrian Hukum dan HAM tahun 2011 silam.

Selain lagu Opo Wana Natas, Ngangi semasa pemuda telah banyak menulis lagu diantaranya; Lilyeya, Sasiendo, Abunawas, Sekuntum Bunga, Setelu Matuari, Selamat Berlayar, Selamat Tinggal, Manguni, Madjoelah Pemoeda Kaoem Maesa”, Di bawah Bendera Jang Berkibar, Bersatoe Padoe, Erat Ikatan Moe.
Dipenghujung pertemuan, FGD lalu menghasilkan 2 rekomendasi; 1. Agar filosofi leluhur Tombulu Sumiga Siga yang punya arti positif dan luas (Mahir, berani, pandai, enerjik, bersemangat, perkasa) terus disebut sebut/disosialisasikan kepada masyarakat (sesuai konteks) dan lagu Opo Wana Natas Karya Johannes Ngangi dinyanyikan sesuai teks asli/patitur yang terdaftar di Kemenkumham (akan digandakan dan disebar luaskan).

Tampak tokoh-tokoh masyatakat Leo Pangalila, Andre Kojongian, Pimpinan Sanggar Mazani Youdy Aray, Pimpinan Lembaga Adat, Ibrahim Tular dan Piet Pungus, Pegiat adat dan budaya Roy Pangalila, dari MKMKT Boaz Wilar, Reynold Paat, Ian Pondaag dan Hanna Mandagi dan Helda Mingkit tampak hadir (bil).



