TOMOHON, Mileniumtimes.com – Proses sejarah perjalanan Tomohon dari sebuah kecamatan menjadi Kota daerah otonom baru (DOB) terdokumentasikan dan dibukukan. Hal itu terungkap dalam buku setebal hampir 200 halaman.
Melengkapi buku perjalanan sejarah terbentuknya Kota Tomohon, di momen menjelang Hari Jadi Kota Tomohon ke-19, Ketua Umum Panitia Pembentukan Kota Tomohon (P2KT) sekaligus mantan Wali Kota Tomohon Jefferson SM Rumajar mengapresiasi dan merespons positif akan terbitnya buku perjalanan sejarah Kota Tomohon.
Dia pun berpesan kepada warga Tomohon agar “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Mengutip perkataan Presiden Pertama Republik Indonesia Bung karno.
Hal itu diingatkan Epe (Sapaan Jefferson Rumajar) melalui pesan WA saat dilangsungkan bedah buku berjudul “Tomohon Menuju Kota”, karya Judie J. Turambi SH yang digelar di D’Anna Resto & Cafe Lansot yang dihadiri tokoh-tokoh pendiri Kota Tomohon dan pegiat literasi Tomohon, Rabu (19/1/2022).
Berikut isi pesan WA Epe yang dibacakan langsung oleh penulis Judie Turambi kepada para peserta bedah buku setebal 200 halaman.
Bertitik tolak dari ungkapan dan seruan Bung Karno tersebut, Saya ingin mengingatkan kembali bagi seluruh masyarakat Kota Tomohon. Bahwa masih ada dalam ingatan kita dimana kehadiran Kota Tomohon bukanlah suatu hadiah atau pemberian dari pemerintah pusat. Namun lewat suatu proses perjuangan yang panjang, dari tahun 1976.
Tokoh tokoh masyarakat Tomohon tak henti-hentinya berjuang, agar Tomohon bisa menjadi kota yang mandiri seperti saat ini.
Perjuangan panjang dari para founding father Kota Tomohon seperti : Drs.K.L. Senduk alm ( Bupati Minahasa), Drs. Boy s. Tangkawarouw MSC alm (Wakil Bupati Minahasa., PJ. Walikota Tomohon), Prof. Dr. Jan Turang alm ( Rektor Unima), Prof. Dr. Mandagi. alm. Theo Tuerah alm, serta beberapa tokoh masyarakat yang lain yang masih hidup seperti bapak Piet Liuw, Drs M E Ering, Ibrahim Tular, Herry Runtuwene.
Mereka semua adalah pejuang pejuang, yang tanpa henti selama bertahun tahun tidak mengenal lelah, sampai dengan terwujudnya Kota Tomohon pada tanggal 27 Januari 2003.
Dari berbagai kelompok masyarakat, silih berganti dari tahun ke tahun. Ada sekian banyak panitia perjuangan, panitia pembentukan dan lain-lain. Yang semua memiliki semangat juang yang sama yakni mewujudkan Kota otonom, yakni Kota Tomohon.
Secara kebetulan, pada waktu Saya menjadi Ketua Umum Panitia Pembentukan Kota Tomohon (P2KT) lewat Surat Keputusan Bupati Minahasa waktu itu bapak Drs Dolf Tanor, terwujudlah Kota Tomohon, lewat UU NO 10 TAHUN 2002 Tentang “Pembentukan Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan di Sulawesi Utara”.
Dalam peristiwa pembentukan Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan, ada satu figur yang tidak boleh kita lupakan yakni figur Drs. Dolfie Tanor, sebagai Bupati pada waktu itu. Karena tanpa komitmen dan keberanian beliau tidak ada pemekaran di Minahasa, dan tidak ada Kota Tomohon.
Saya ingin menjelaskan sedikit bagaimana peranan beliau sampai lahirnya Kota Tomohon.
Pada waktu itu kebijakan politik pemerintah pusat menyatakan bahwa Tomohon belum layak untuk menjadi kota otonom, sehingga RUU untuk pembentukan Kota Tomohon dari pemerintah pusat tidak mungkin terlaksana.
Lewat Keberanian Pak Dolfie Tanor, bersama sama dengan kami, membawa aspirasi masyarakat Kota Tomohon lewat jalur DPR RI, dan kami diterima di Komisi II pada waktu itu.
Delegasi kami yang dipimpin oleh Pak Dolfie Tanor, sangat di apresiasi oleh Komisi II DPR RI pada waktu itu, mereka sangat terkesan karena menurut mereka baru sekarang ada seorang kepala daerah yang berani datang dan ingin memekarkan wilayahnya, biasanya kepala daerah tidak mau kekurangan wilayah kekuasaan, tapi Bupati Minahasa Dolfie Tanor, datang untuk minta kekuasaannya dibagi.
Akhirnya lewat lobi lobi politik yang ada pada waktu itu kami mengupayakan agar pemekaran Kota Tomohon dilakukan lewat RUU Hak Inisatif Dewan.
Dengan negosiasi dan diskusi yang panjang akhirnya dewan menyetujui mengajukan pembentukan Kota Tomohon lewat RUU Hak Inisitif Dewan dan RUU nya di ketik di rumah Saya di Keluarahan Talete dan di tanda tangani oleh 23 anggota DPR RI, yang datang ke Tomohon pada waktu itu.
Segala Usaha, tenaga dan biaya, semua di fasilitas oleh Bapak DolfieTanor sebagai Bupati Minahasa pada waktu itu.
Olehnya bagi saya beliau memiliki tempat tersendiri di hati sanubari masyarakat Tomohon. Sehingga waktu beliau wafat Saya salah satu orang yang bermohon pada keluarga untuk berkenan memakamkan beliau di Kota Tomohon seperti sekarang ini.
Selanjutnya proses kelahiran Kota Tomohon yang pada waktu itu saya bersama-sama dengan teman-teman panitia pembentukan seperti Dra. Vonny Paat sebagai Sekretaris Umum, Ricky Pontoh, MBA sebagai Bendahara Umum, serta beberapa tokoh-tokoh lain seperti Theo Tuerah (alm), Judie Turambi, SH, Ibrahim Tular, dan semua komponen masyarakat Tomohon.
Bekerja keras untuk meyakinkan masyarakat Kota Tomohon tentang arti dan manfaat dari kehadiran Kota Tomohon pada waktu itu.
Memang dulu pernah ada wacana dan perjuangan dari teman-teman tergabung dalam KP2DT. Itu Tidak berlanjut karena kajian akademis yang di buat Depdagri dan DPR RI menyatakan tidak memenuhi syarat karena terdiri dari Kecamatan Tomohon, Pineleng dan Tombariri.
Menurut mereka itu tidak layak untuk jadi Kota, kalau Kabupaten bisa,” kunci Jefferson ‘Epe’ Rumajar (eki).














