Mileniumtimes.com-TOMOHON
SATU lagi ‘Tou’ Minahasa bakal dianugerahi Pahlawan Nasional. Namanya Arnold Isaac Zacharias Mononutu. Pria kelahiran Manado, 4 Desember 1896 itu, anak dari Karel Charles Wilson Mononutu seorang ambtenaar pernah menjabat anggota Majelis di Gereja Centrum Manado.
Pada acara peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 pekan depan Presiden Joko Widodo akan menggelarinya sebagai Pahlawan Nasional.
Tokoh yang dikenal sebagai perintis kemerdekaan ini, pernah Menteri Penerangan, Duta Besar Indonesia pertama untuk Tiongkok. Selain itu ia pernah menjadi anggota Majelis Konstituante dan Rektor Universitas Hasanuddin Makassar.
Kalau di Sulawesi Utara ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh bersama-sama dengan G.A Maengkom (Menteri Kehakiman), L.N. ‘Babe’ Palar ( Dubes Indonesia di Kanada) dan Fred J. Inkiriwang (Menteri Perindustrian) yang melakukan misi damai penyelesaian Permesta dan menghasilkan “Persetujuan Kinilow” di Tomohon pada 23 Juli 1957.

Presiden Universitas Hasanudidn, Prof. Arnold Mononutu bersama Panglima Kol. M. Jusuf ketika menghadiri suatu upacatra kemahasiswaan di Stadion Motoangin, Makassar (Dok)
Arnold Mononutu disapa akrab Om No, dianggap punya kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seperti dilansir dari laman Liputan6.com, Menurut Menteri Sosial Juliari Batubara, Presiden Joko Widodo bakal memberikan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh bangsa yang dianggap punya kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, salah satunya Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu.
Pemberian gelar pahlawan nasional, akan dilakukan bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, 10 November 2020 di Jakarta. “Calon penerima gelar pahlawan nasional akan disampaikan langsung oleh Bapak Presiden di Istana Negara pada tanggal 10 November, setelah acara upacara ziarah nasional,” kata Juliari pada konferensi pers di YouTube Kemensos, Jumat (6/11/2020).

Mengikuri seminar Hukum Internasional tahun 1924. Dari kiri ke kanan: Ir. Darmawan Mangunkusumo, Mr. Ahmad Subardjo, Arnold Mononutu dan seorang diplomat asing (Dok)
Dia pun memastikan, keenam tokoh bangsa yang akan ditetapkan sebagai pahlawan nasional tersebut sudah melalui tahapan yang telah ditetapkan, baik dari Kemensos maupun Dewan Gelar. Dalam keenam nama tokoh yang akan diberikan sebagai pahlawan nasional, terselip nama seorang Menteri Penerangan Era Presiden Soekarno, yaitu Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu.
Berikut profil singkat sosok Arnoldus Isaac Zacharias Mononutu, Pernah Jadi Menteri Dikutip dari buku Kabinet Hatta, karya Tamar Djaja.
Arnold Mononutu dilahirkan di Manado 4 Desember 1898. Dia pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan di era kabinet Presiden Sukarno dan Wapres Mohammad Hatta. Seperti dikutip dari Kepustakaan Presiden, saat menjadi Menteri Penerangan, dialah yang mengukuhkan nama Jakarta pada 30 Desember 1949 ketika Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang.
Sejak itu, nama Batavia menghilang. Pengukuhan nama Jakarta tersebut dilakukan sesudah berlangsungnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Selain menjabat menteri, Mononutu pernah jadi anggota Majelis Konstituante (1956-1959) mewakili PNI. Semasa mudanya, Arnold menghabiskan hidup dalam belajar dan berjuang. Ia pernah sekolah dagang pertengahan, kemudian melanjutkan studi kesusasteraan Belanda dan Belanda kuno di Universitas Leiden, Den Haag, Belanda.
Pembentuk Organisasi Pemuda PI Terkait organisasi, dalam jurnal berjudul Kesultanan Ternate Pada Era Pemerintahan Soekarno, karya Rustam Hasim, dijelaskan Arnold Mononutu bersama para pemuda lainnya terlibat dalam pembentukan organisasi lokal pada 20 Desember 1945.
Organisasi pemuda itu bernama Persatuan Indonesia (PI) yang diketuai oleh MA Kamaruddin. Kemudian pada kongres ke-2 di Ternate, 9 Januari 1946, Arnold Mononutu terpilih sebagai Sekretaris Persatuan Indonesia (PI).
Setelah terpilihnya Arnold Mononutu sebagai Sekretaris dan Chasan Boesoirie sebagai Ketua, Persatuan Indonesia tampil sebagai organisasi yang terus-menerus menentang secara tegas kebijakan pemerintahan Hindia Belanda di Maluku Utara.
Kiprah di GAPKI dilanjutkan dalam buku Kabinet Hatta, sewaktu dibentuk Dewan Perwakilan Indonesia Timur, Arnold terpilih sebagai menjadi anggota. Kemudian pada 1937, ia terpilih menjadi wakil ketua parlemen pertama dari Negara Indonesia Timur.
Dalam parlemen tersebut, ia menjadi ketua fraksi progresif dan kemudian terpilih menjadi Menteri Penerangan Republik Indonesia Serikat, dengan partainya Partai Gabungan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (GAPKI). GAPKI yang dipimpin oleh Arnold Mononutu merupakan aliansi politik terbesar dan terkuat di Indonesia Timur. Sebagai sebuah kekuatan oposisi, GAPKI sangat disegani dan diperhitungkan pemerintah Negara Indonesia Timur (fry).


