“Lunch n Dinner”, Momen Keluarga Untuk Saling Membagi

BAGIKAN

Date:

TOMOHON, Mileniumtimes.com– LAMA, 22 tahun tinggal dan hidup dengan budaya Eropa khususnya di Negeri berjuluk “Paradise” Dunia, Swiss.

Namun, wanita Minahasa berparas anggun kelahiran Watumea dibibir Danau Tondano ini, menemukan cara terbaik untuk menjaga keharmonisan dan kelangsungan keluarganya dari dua culture yang berbeda.

Berikut hasil bincang bincang Jurnalis Mileniumtimes.com Judie Turambi dengan wanita penyapa dan punya nama lengkap Yoan Sepang.

“Lunch n dinner salah satu momen keluarga untuk saling membagi,” ungkap Yoan panggilan akrabnya ketika ditanya resep rumahtanggahnya yang harmonis dan langgeng.

Untuk membagi, bersama suaminya Markus yang menikahinya sejak 1999 dan anak mereka Sarah, lanjut wanita pengagum musik rock, pop, classic n jazz ini, banyak hal al; sharing kegiatan dan membagi info akan aktifitas masing-masing.

“Ini penting bagi kami bertiga dan kami bisa saling mengerti dan men-support satu sama lain” sebut Yoan.

Soal seni dan budaya Minahasa ? Walau kesehariannya lama bersinggungan dengan budaya ‘benua biru’ Eropa, justru membuat wanita yang sejak usia dua tahun hobby menyanyi ini, semakin peduli dan cinta akan seni dan budaya leluhurnya Minahasa.

“Seni dan budaya itu aset bangsa yang tak ternilai harganya. Nah untuk melestarikannya perlu sering digelar lombah apakah menyanyi, menari tarian tradisional dan musik kolintang,” ungkap Yoan yang pernah bergabung di Sanggar Malesung Tomohon.

Soal pariwisata di Sulut ? Yoan yang merasa bersyukur tinggal di Swiss, sebab ia mendapat kesempatan menikmati keindahan alamnya yang natur khususnya Gunung Es yang menakjubkan lalu memberi penilaian.

Keindahan alam Sulawesi Utara, seperti pegunungan, pantai, danau, hujannya, itu indah sekali dan memang sangat natural.

Yang perlu dibenahi sebutnya, mulai hal yang paling kecil yakni, kesadaran publik untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Sudut-sudut Kota masih banyak sampah yang berserakan dan bertumpu,” sebutnya.

Ia memberi contoh saat pulang kampung, masih dilihatnya orang membuang sampah sembarangan padahal sudah ada tempat sampah.

“Mindset ini yang harus diperbaiki, agar pariwisata di Sulut bukan hanya indah tapi juga bersih,” terangnya.

Sementara interaksinya dengan warga Kawanua Swiss, Yoan salah satu pengurus Kawanua Swiss yang akif dan salah satu penggagas promosi pariwisata Sulut di Swiss dan aktif pada kegiatan keagamaan.

“Setiap acara Natal seperti yang pernah dilaksanakan bersama PERKI Swiss dan sempat mengundang James Kandouw, waktu itu Dubes RI untuk Serbia,” kunci Yoan. Sukses Selalu Yoan, Makase (fry).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU