TOMOHON, Mileniumtimes.com- Cerita cincin dengan batu perhiasan mata berlian milik mantan Sekjen Kementerian Menkumham yang jatuh di Talaga (Telaga) Sineleyen, bukan hanya selentingan kabar burung belaka.

Jenniver Mantow anak menantu Hasanuddin Massaile berdiri di area jatuhnya cincin di Rm. Sineleyan Talete, Sabtu (18/9) (Foto: Jud)
Perhiasan jari yang nilainya mencapai ratusan juta tersebut hingga kini (mungkin, red) masih mendekam di dasar talaga.
Ketika media ini menelusuri kebenaran dari cerita yang muncul sejak tahun 2012 ini muncul cerita yang menarik.

Talaga Sineleyan penuh ditumbuhi Apu Apu, Sabtu (18/9) (Foto : Jud)
Berikut nukilan ceritanya yang ditulis dengan gaya bertutur ketika jurnalis Millenium Times (MT) mewawancarai Jenniver Mantow (JM), M.P.si seorang psikolog, anak menantu Dr.Hasanuddin Massaile, Bc.Ip yang juga mantan Direktur Jenderal Pemasyarakatan periode 1999-2001.
MT : Bisakah anda menggambarkan sedikit bagaimana bentuk cincin tersebut ?
JM : Cincin tersebut menurut mertua saya, beliau membelinya sekira tahun 2000 di Cape Town Afrika Selatan.
Cincin dengan batu perhiasannya terdiri dari 6 mata berlian yang berat sekira 0.6 sampai 0.8 karat .
Kalau dirupiahkan harganya fantastis bisa mencapai ratusan juta.
MT : Bagaimana kisah dari cincin ayah mertua anda sampai bisa jatuh ke Talaga Sineleyan.
JM : Ceritanya begini. Ketika ayah mertua saya datang berkunjung ke Kota Tomohon sekira tahun 2012, beliau itu disambut lalu dijamu makan di Rumah Makan Sineleyan Talete.
Saat itu ayah mertua saya ketika selesai makan, datang ke wastafel yang kebetulan posisinya ada diatas Talaga Sineleyan. Maklum karena rumah makan tersebut dibangun diatas kolam ikan.
MT : Lantas kenapa cincin itu sampai bisa jatuh ?
JM : Ketika ayah mertua saya selesai membersihkan tangannya, beliau secara refleks mengibaskan tanganya yang masih basah.
Mungkin saja karena waktu cuci tangan pakai sabun sehingga cincin yang dipakai di jari manis tangan kiri terlepas dan jatuh ke talaga.
MT : Ketika cincin itu jatuh, apakah ada upaya untuk dilakukan pencarian ?
JM : Yah, ayah mertua saya waktu itu langsung berupaya mencari cincin itu.
Dikerahkan 2 sampai 3 orang yang punya kemampuan menyelam untuk mencari cincin tersebut di dasar talaga.
Waktu yang dibutuhkan sekira 3 hari dilakukan pencarian dengan menggunakan cara, lumpur yang ada didasar diangkat dengan menggunakan wadah kemudian disaring.
Karena visibility air talaga Sineleyan yang rendah, jarak pandang hanya 2 meter, suhu air cukup dingin membuat para penyelam kewalahan.
Jadi, ayah mertua saya sudah pasrah dan mengambil keputusan untuk menghentikan upaya pencarian tersebut.
Apalagi waktu itu hampir saja terjadi kecelakaan karena satu orang hampir tenggelam.
Alasan itu jugalah diambil untuk menghentikan pencarian cincin tersebut.
Suami saya juga berpikir, nyawa orang lebih berharga dari pada satu buah cincin berlian.
Hasanuddin Massaile pria berdarah Bugis itu punya alasan lain yakni, kemungkinan di telan ikan yang cukup besar.
Dikonfirmasi salah satu pegawai pria yang sudah cukup lama bekerja di Rm. Sineleyan, Sabtu (18/9) siang, membenarkan peristiwa itu.
Ingatnya, peristiwa jatuhnya cincin hampir sepuluh tahun lalu bahkan membuat heboh sampai beberapa hari.
Sampai hari ini belum diperoleh kabar kalau cincin bermata berlian itu sudah ditemukan (fry).


