In Memoriam Henriette ‘Jetti’ Marianne Katoppo “Menghormati Kartini, Tapi Ada Perempuan Perempuan Lain Yang Lebih Revolusioner”

BAGIKAN

Date:

TOMOHON, Mileniumtimes.com –

Mengawali tulisan ini, saya memulai dengan kutipan sepenggal pernyataan dari sebuah wawancara beberapa waktu silam katanya, “Saya sering disebut sebagai musuh Kartini,” begitu pengakuannya dalam wawancara tersebut. 

Lantaran ia menyebut, peranan Kartini (Raden Ajeng Kartini) tidak sebesar yang diduga orang. Ia kemudian menjadi sosok perempuan yang mendapat perhatian publik.

Masih dalam wawancara itu, lanjutnya, “Ada perempuan-perempuan lain yang menurutnya lebih revolusioner dalam memperjuangkan haknya, menyatukan pemikiran dengan tindakan seperti
Dewi Sartika di Pasundan dan Tjoet Nyak Dhien di Tanah Rencong”. Jadi bukan perarti ia tidak menghormati Kartini tapi pesannya bahwa Kartini bukan satu-satunya pejuang perempuan Indonesia.

Heneiette Marianne Katoppo, dilingkungan keluarga dan sahabat-sabatnya memanggilnya ‘Jettie’ perempuan kelahiran Kaaten Matani Tomohon 80 tahun silam persisnya 9 Juni 1943.

Jettie, yang lebih suka memakai istilah perempuan daripada wanita, adalah anak bungsu dari sepuluh bersaudara terlahir dari pasangan suami-istri, Elvianus Katoppo dan Agnes Rumokoij.

Ayah Jettie bernama, Elvianus Katoppo, Menteri Pendidikan dan Pengajaran pada Kabinet Negara Indonesia Timur (NIT) dan pernah memegang jabatan sebagai Direktur Louwerierschool populer disebut Meisjesschool di Tomohon.

Di tahun 1947 pas diusianya empat tahun, keluarganya pindah ke Makassar lantaran ayahnya yang bernama Elvianus Katoppo diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Pengajaran pada Kabinet Negara Indonesia Timur (NIT) lalu tahun 1950 keluarganya pindah lagi ke Jakarta.

Diusianya yang ke 7 tahun kentika di Jakarta, ia mulai menulis dan tulisannya dimuat di rubrik anak-anak Nieuwsgier harian berbahasa Belanda.

Tak heran kelak Jettie menjadi seorang novelis terkenal di tahun 1970-an bahkan seorang teolog feminis pertama di Asia meski nyaris dilupakan.

Salahsatu bukunya, “Compassionate and Free, Asian Women Theology” yang ditulisnya dan diterbitkan Dewan Gereja Dunia di Jenewa Swiss pada 1979, menjadi textbook teologi feminis di banyak negara dan telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa.

Novel karyanya diminati publik, salah satunya berjudul “Raumanen”. Melalui Raumanen, Jettie mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta.

Bahkan, novel Raumanen mendapat penghargaan, Penulis Terbaik Asia Tenggara SEA Write Award tahun 1982 yang diterimanya langsung dari Ratu Sirikit Thailand di Bangkok. Ia juga penerima penghargaan Magsaysay Filiphina.

Perempuan yang menguasai sepuluh bahasa
dunia ini, 16 tahun silam tepatnya tanggal hari ini Kamis, 12 Oktober 2007 di Bogor, diusianya yang ke enam puluh empat dia dipanggil Sang Pencipta.

Sayang sekali penulis tidak pernah bertemu dengannya hingga akhir hayatnya.

Padahal kalau kerinduannya ingin pulang ke kampung kelahirannya Kaaten/Matani dan mengajar di UKIT Tomohon terkabul, penulis bisa memastikan akan bertemu dengan beliau (judiejt).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU