Surat dari Sukamiskin (2), Epe : “Masyarakat Tomohon Pilih Pemimpin yang Tepat dan Berkompeten,”

BAGIKAN

Date:

Mileniumtimes.com-TOMOHON

BERTITIK tolak dari ungkapan dan seruan Bung Karno tersebut, saya ingin mengingatkan kembali bagi seluruh masyarakat Kota Tomohon bahwa masih ada dalam ingatan kita dimana kehadiran Kota Tomohon bukanlah suatu hadiah atau pemberian dari Pemerintah Pusat melainkan lewat suatu proses perjuangan yang panjang dari tahun 1976. Tokoh-tokoh masyarakat Tomohon tak henti-hentinya berjuang agar Tomohon bisa menjadi Kota yang mandiri.

Perjuangan panjang dari para Founding Father Kota Tomohon seperti : Drs. K.L Senduk, alm (Bupati Minahasa), Drs. Boy S. Tangkawarouw, MSc, alm (Wakil Bupati Minahasa, Pj. Walikota Tomohon), Prof. Dr. Jan Turang, alm (Rektor Unima), Prof. Dr. Mandagi, alm, Theo Tuerah, alm, seperti beberapa tokoh masyarakat yang lain yang masih hidup seperti Bapak Piet Liuw, Drs. M.E. Ering, Ibrahim Tular, Herry Runtuwene mereka semua adalah pejuang-pejuang tanpa henti selama bertahun-tahun tidak mengenal lelah sampai terwujudnya Kota Tomohon pada tanggal 27 Januari 2003.

Dari berbagai kelompok masyarakat, silih berganti dari tahun ke tahun, ada sekian banyak panitia perjuangan, panitia pembentukan, dll. Yang semua memiliki semangat juang yang sama yakni mewujudkan Kota Tomohon yakni Kota Tomohon.

Secara kebetulan pada waktu saya menjadi Ketua Umum Panitia Pembentukan Kota Tomohon (P2KT) lewat surat keputusan Bupati Minahasa waktu itu Bapak Drs. Dolfie Tanor. Terwujud Kota Tomohon, lewat UU Nomor 10 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Minahasa Selatan dan Kota Tomohon di Propinsi Sulawesi Utara.

Dalam peristiwa pembentukan Kota Tomohon dan Kabupaten Minahasa Selatan, ada satu figur yang tidak boleh kita lupakan yakni figur Drs. Dolfie Tanor, sebagai Bupati pada waktu itu. Karena tanpa komitken dan keberanian beliau, tidak ada pemekaran di Minahasa dan tidak ada Kota Tomohon,

Saya Ingin Menjelaskan Sedikit Bagaimana Peranan Beliau Sampai Lahirnya Kota Tomohon

Pada waktu itu, kebijakan politik Pemerintah Pusat menyatakan bahwa Tomohon belum layak untuk menjadi Kota Otonom sehingga, RUU untuk pembentukan Kota Tomohon dari Pemerintah Pusat tidak mungkin terlaksana. Lewat keberanian pak Dolfie Tanor, bersama-sama dengan kami, membawah Aspirasi Masyarakat Kota Tomhon lewat jalur DPR RI dan kami diterima di Komisi II pada waktu itu delegasi kami yang dipimpin oleh Pak Dolfie Tanor.

Delegasi kami diapresiasi oleh Komisi II DPR RI pada waktu itu. Mereka sangat terkesan karena menurut mereka baru sekarang ada seorang Kepala Daerah yang berani datang dan ingin memekarkan wilayahnya, biasanya Kepala Daerah tidak mau kekurangan kekuasaan tetapi Bupati Minahasa Dolfie Tanor datang untuk meminta kekuasaannya dibagi.

Akhirnya, lewat lobi-lobi politik yang ada pada waktu itu, kami mengupayakan agar pemekaran Kota Tomohon dilakukan lewat RUU Hak Inisiatif Dewan. Dengan negosiasi dan diskusi yang panjang, akhirnya Dewan menyetujui pembentukan Kota Tomohon lewat RUU Hak Inisiatif Dewan dan RUU-nya diketik dirumah saya di Talete dan di tandatangani oleh 23 Anggota DPR RI yang datang ke Tomohon pada waktu itu.

Segala usaha, tenaga dan biaya, semua di fasilitasi oleh Bapak Dolfie Tanor sebagai Bupati Minahasa pada waktu itu. Olehnya bagi saya beliau memiliki tempat tersendiri di hati sanubari masyarakat Tomohon. Ketika beliau wafat saya salah satu orang yang bermohon pada keluarga untuk berkenan memakamkan beliau di Kota Tomohon seperti sekarang ini.

Selanjutnya proses kelahiran Kota Tomohon yang pada waktu itu saya bersama-sama dengan teman-teman panitia pembentukan seperti Dra. Vonny Paat sebagai Sekretaris Umum, Ricky Pontoh, Bendahara Umum serta beberapa tokoh-tokoh lain seperti Theo Tuerah (alm), Judie Turambi, Ibrahim Tular dan semua komponen masyarakat Tomohon bekerja keras untuk meyakinkan masyarakat Tomohon tentang arti dan manfaat dari kehadiran Kota Tomohon pada waktu itu, karena waktu kami berkunjung ke Kalurahan-kelurahan dan Desa-desa pada waktu itu banyak juga yang resistensi dari Tokoh-tokoh masyarakt setempat. Mereka bertanya apa manfaat dan keuntungan kalau Tomohon jadi Kota ??? Jangan-jangan tidak ada manfaat dan cuma untuk bagi-bagi kekuasaan Elite Politik saja dan rakyat ditinggalkan.

Kami harus meyakinkan masyarakat bahwa kehadiran Kota Tomohon adalah untuk menghadirkan Keadilan Sosial di seluruh sendi masyarakat Kota Tomohon dengan segala potensinya. Olehnya pada waktu saya dipercayakan rakyat untuk memimpin Kota Tomohon yang menjadi tekad saya adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

Saat ini menghadapi Pilkada Kota Tomohon, hati nurani saya terpangil untuk mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat Kota Tomohon, teristimewa para pendiri Kota Tomohon, mari kita kawal Pilkada Kota Tomohon Tahun 2020 agar kepemimpinan Kota Tomohon tidak salah arah dan jatuh ketangan orang-orang yang tidak berkompeten bahkan tidak bertanggung jawab.

Sepuluh tahun saya meninggalkan Kota Tomohon, saya hanya bisa memonitor lewat penyampaian-penyampaian dari masyarakat tentang bagaimana sepak terjang Pemerintah Kota Tomohon 10 tahun terakhir ini dan bebarapa saat yang lalu saya berkesempatan untuk ke Tomohon dan saya melihat secara langsung bagaimana kondisi terkini.

Dan kesimpulan saya bahwa proses Pemerintah dan penyelenggara pembangunan Kota Tomohon sudah banyak keluar dari rel-nya tentang maksud dan tujuan dari pembentukan Kota Tomohon saat ini.

Saya sebenarnya menaruh harapan besar kepada Sdr. Jimmy Eman yang menjadi Pemimpin Kota Tomohon sebagai Walikota agar punya komitmen untuk membangun Kota Tomohon yang sesuai dengan Roh pembentukannya, saya sadar memang Sdr Jimmy Eman bukan bagian dari orang-orang yang ikut memerjuangkan Kota yang kita cintai ini, Kota Tomohon untuk hadir demi kepentingan masyarakat Kota Tomohon itu sendiri.

Waktu saya mengangkat beliau sebagai pasangan saya pada Pilkada 2010 yang lalu, dari lubuk hati yang paling dalam saya berdoa dan berharap beliau akan belajar dan memaknai, walaupun bukan bagian dari pejuang Kota Tomohon tapi beliau bisa cari tahu dan ikut belajar, apa tujuan pembentukan Kota Tomohon. Tetapi ternyata selama 10 tahun tidak beliau laksanakan.

Saya mengajak kepada seluruh tokoh-tokoh pejuang Kota Tomohon dan seluruh masyarakat marilah lewat momentum Pilkada kali ini kita kembalikan Roh Pembentukan Kota Tomohon kembali dapat menikmati arti dari kehadiran sebuah Kota yang sederhana dan makmur rakyatnya.

Perlu saya tegaskan sampai dengan surat ini saya buat, saya belum menentukan untuk memberikan dukungan kepada salah satu Pasangan Calon Walikota, saya masih melakukan penilaian secara mendalam dan matang, pada gilirannya nanti mudah-mudahan saya akan menentukan dan memberikan dukungan.

Dengan segala keterbatasan yang saya miliki saat ini, saya hanya dapat memberikan masukan dan pencerahan serta himbauan moral. Sekaligus pembelajaran politik bagi semua komponen masyarakat untuk dapat memilih pemimpin yang tepat, cari tahu track record-nya, latar belakangnya dan suskses story-nya, cari tau kebenaran-kebenarannya dan jangan melakukan black campain, money politic juga penyalahgunaan kekuasaan karena itu semua musuh demokrasi.

Sampai disini dulu surat saya dari Sukamiskin, semoga semua masyarakat Kota Tomohon selalu dalam Perlindungan dan Penyertaan Tangan Kasih Tuhan.

Mari Kita kembalikan Kota Tomohon ke jalan yang benar.

Tuhan Memberkati Kita Sekalian        

                    Ttd

Jefferson S.M Rumajar

Ketua Umum Panitia Pembentukan Kota Tomohon (fry).

BAGIKAN

spot_imgspot_img

TERBARU